Setiap kali sebuah kekuasaan merasa terancam oleh sebuah
gagasan narasi, responsnya hampir selalu sama. Yakni, bukan membalas dengan
narasi, melainkan membungkam. Pola ini bukan hanya ada di abad modern. Pola ini
sudah ada dalam sejarah sejak empat belas abad lalu, di sebuah kota dagang
bernama Mekah.
Otoritarianisme sering dipahami sebagai kekuasaan yang
terpusat pada satu tangan, dengan pembatasan yang ketat terhadap kebebasan
berpendapat. Tapi Mekah pra-Islam sesungguhnya bukan monarki tunggal. Ia adalah
oligarki klan — kekuasaan tersebar di antara beberapa suku besar Quraisy, yang
bermusyawarah dan berebut pengaruh di Darun Nadwah, balai pertemuan yang
didirikan Qushay bin Kilab. Di sanalah para pemuka klan — termasuk Abu Jahl
dari Bani Makhzum, salah satu klan militer terkuat Quraisy — berkumpul
mengambil keputusan bersama.
Justru di sinilah letak pelajaran pentingnya. Yaitu, otoritarianisme
tidak selalu butuh satu kedudukan atau jabatan tunggal. Otoritarianisme bisa
lahir dari para elit penguasa (oligarki) yang, ketika legitimasinya terancam,
mendadak kompak bertindak sebagai satu kekuatan represif. Ketika Muhammad mulai
menawarkan narasi alternatif yang menggugat tatanan sosial-ekonomi Mekah. Darun
Nadwah berubah dari forum musyawarah menjadi ruang kolusi. Menurut riwayat Ibn
Hisyam, di sanalah Abu Jahl mengusulkan rencana paling kejam: membunuh Muhammad
dengan melibatkan pemuda dari setiap klan sekaligus, agar darahnya ditanggung
bersama dan Bani Hasyim tidak bisa membalas kepada satu pihak saja.
Ini bukan hanya cerita kekerasan terhadap personal. Ini
adalah taktik kekuasaan yang kehilangan penguasaan narasinya. Represi yang
didistribusikan agar tanggung jawab moral menjadi kabur, dan agar tak seorang
pun merasa menjadi seorang pembunuh.
Yang membuat Muhammad berbahaya bagi Quraisy bukan
pedang atau pasukan. Muhammad hampir tidak memiliki kekuatan fisik ataupun
militer saat itu. Yang berbahaya adalah bahwa ia menawarkan cara berpikir
alternatif tentang siapa yang berhak menjadi sumber kebenaran, keadilan, dan
tatanan sosial. Ia menggugat asumsi yang menjaga sistem itu tetap berjalan, bahwa
kekuasaan Quraisy adalah pengatur serta pemimpin yang tak tertandingi.
Di sinilah letak relevansinya bagi kita hari ini.
Otoritarianisme — di Indonesia maupun dunia — jarang tumbang hanya karena adanya
tandingan kekuatan militer. Ia lebih sering goyah ketika penguasaan terhadap
narasi runtuh. Di saat cukup banyak orang mulai mempertanyakan asumsi dan
pemikiran yang selama ini dianggap alami, dan berani menyuarakannya meski
risikonya nyata. Kajian otoritarianisme kontemporer, dari Guillermo O'Donnell
hingga Steven Levitsky, menunjukkan pola serupa, bahwa rezim otoriter mampu
bertahan bukan lewat represi semata, melainkan lewat kontrol atas narasi yang
membuat represi itu terasa perlu dan wajar.
Membaca sejarah Muhammad sebagai tokoh keagamaan semata,
berisiko dapat mengaburkan dimensi ini. Muhammad juga seorang tokoh politik revolusioner,
sebab yang ia tawarkan bukan strategi merebut kekuasaan, melainkan kebenaran universal
yang independen dari kepentingan klan mana pun. Justru independensi itulah yang
membuat narasinya sulit dibungkam. Ia tidak sedang bernegosiasi untuk posisi
dalam sistem yang ada, ia menawarkan sistem alternatif.
Pelajaran dari Darun Nadwah bukan ajakan untuk revolusi
jalanan. Ia adalah pengingat bahwa para penguasa mana pun, betapa pun kompak
dan represif, bergantung pada satu hal yang mudah runtuh. Yakni kepatuhan yang
tidak lagi dipertanyakan. Begitu pertanyaan itu muncul, dan cukup banyak orang
berani mengucapkannya, penguasaan atas narasi akan mulai runtuh.
Catatan Metodologi
Tulisan ini membaca peristiwa Darun Nadwah melalui lensa
teori oligarki (sekumpulan penguasa) dan kontrol atas narasi kekuasaan, bukan
sebagai narasi keagamaan semata. Dua standar yang digunakan FaktaKebenaran
sebagai tolok ukur — Hukum Alam (Natural Law) dan Hikmah Kitab Suci (Scriptural
Wisdom) — tetap menjadi landasan metodologis, dengan penekanan pada dimensi
politik-struktural peristiwa sejarah ini.
Daftar Referensi & Bacaan Lanjutan
Ibn
Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyyah. — Riwayat musyawarah Darun Nadwah dan usul Abu
Jahl menjelang hijrah Nabi Muhammad.
Watt,
W. Montgomery. Muhammad at Mecca. Oxford University Press, 1953. — Analisis
struktur oligarki-klan Quraisy dan posisi ekonomi-politik Mekah pra-Islam.
O'Donnell,
Guillermo, dan Philippe C. Schmitter. Transitions from Authoritarian Rule.
Johns Hopkins University Press, 1986.
Levitsky, Steven, dan Lucan Way. Competitive Authoritarianism. Cambridge University Press, 2010. — Kerangka tentang bagaimana rezim otoriter kontemporer bertahan lewat kontrol narasi, bukan represi semata.
-Yak
.png)
0 Comments